Peningkatan Belanja Diprediksi Capai 40 Persen

JAKARTA – Pelaku usaha di sektor pusat belanja cukup optimis di lebaran tahun ini penjualan ritel bisa meningkat. Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan tersebut, pelaku usaha mensiagakan suplai dan stok. Selain itu, pengusaha juga menebar berbagai program promo serta diskon agar pertumbuhan belanja masyarakat semakin optimal.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyampaikan, potensi lonjakan penjualan ritel di pusat perbelanjaan yang masif sangat mungkin terjadi mengingat banyak masyarakat yang melakukan mobilitas termasuk mudik saat libur Lebaran 2024. ”Kami perkirakan pertumbuhannya bisa mencapai kisaran 30 sampai 40 persen,” ujar Budiharjo.

Para peritel pun sudah menyiapkan stok produk untuk momen libur Lebaran sejak bulan Januari silam. Selain itu, banyak peritel yang meluncurkan produk atau item baru edisi spesial Idul Fitri demi memacu permintaan dari konsumen. Tidak ketinggalan, berbagai program diskon juga diberikan kepada konsumen baik saat Ramadan ataupun libur Lebaran tiba.

Budiharjo membeberkan, produk seperti makanan-minuman, pakaian, tas, dan alas kaki bakal banyak dicari konsumen pada saat libur Lebaran nanti. Menurut dia, adanya aktivitas mudik memungkinkan tingkat kunjungan ke gerai-gerai ritel maupun pusat perbelanjaan lebih merata saat libur Lebaran tiba, tidak hanya terkonsentrasi di kota besar saja, tapi juga di daerah-deerah. ”Kunjungan ke gerai ritel akan lebih merata persebarannya saat libur Lebaran nanti,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengamini bahwa peningkatan setidaknya 30 persen cukup rasional untuk bisa digapai pengusaha di lebaran tahun ini. ”Yang namanya belanja di momen lebaran tak terelakkan. Pemerintah telah menggelontorkan THR untuk ASN, Polri, belum juga yang swasta. Masyarakat ketika dapat THR pasti belanja,” ujar Roy.

Belanja di momen ramadan menurut Roy adalah customer behaviour yang sangat menguntungkan untuk sektor ritel. Untuk tahun ini, sambung Roy, attraction yang utama dari sebuah ritel modern atau pusat belanja adalah ketersediaan barang dan kestabilan harga. ”Pola musiman, ramadan adalah puncak transaksi. Jadi tentu saja pengusaha sangat berharap bisa memaksimalkan momentum itu,” pungkas Roy.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai periode musiman memang menjadi faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Momen Ramadhan dan Lebaran dipandang memberi dampak yang masif pada pertumbuhan ekonomi, di samping hari besar lainnya yaitu pada saat Natal dan Tahun Baru.

Periode Ramadhan tahun ini yang dimulai sejak 12 Maret tetap diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang diprediksi tetap solid. ”Kami memproyeksikan ekonomi nasional tumbuh pada kisaran 5 persen pada triwulan I dan II 2024,” ujar Josua.

Selain itu, secara konsisten, perputaran uang juga diprediksi tetap tumbuh positif dari bulan-bulan sebelumnya. Apalagi mengingat masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan untuk membagi-bagikan angpau Lebaran dan sedekah pada saat pulang ke kampung halaman. Belum lagi, belanja masyarakat untuk keperluan makanan serta transportasi mudik selama Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. (agf)